Dwi Suryanto, M.Sc dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendekatan OBE ini mungkin bukan hal yang baru bagi sebagian prodi di USU, namun kegiatan ini harus dilakukan agar semua prodi memiliki persepsi yang sama dan dapat meninjau kembali apakah kurikulum di masing-masing prodi sudah sesuai dan benar-benar menerapkan OBE. Kurikulum yang disusun berdasarkan pendekatan OBE juga akan sangat membantu jika Program Studi ingin mempersiapkan akreditasi internasional.
Translated with DeepL.com (free version)

Senada dengan sambutan Ketua UPP USU, Wakil Rektor I USU Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.Hum juga menyampaikan dalam arahannya saat membuka kegiatan ini, bahwa FGD ini harus dilakukan untuk berbagai penyesuaian yang harus segera dilakukan dalam rangka percepatan dekonstruksi kurikulum. Dekonstruksi kurikulum yang dimaksud harus menggunakan platform OBE agar sejalan dan relevan dengan akreditasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor I mengumumkan 5 program studi yang berhasil meraih hibah dari Kemendikbud, yaitu Agribisnis, Biologi, Fisika, Kimia, dan Teknik Kimia. Beliau menyampaikan harapannya kepada 5 prodi tersebut untuk menjadi role model dan menjadi contoh bagi prodi lain dalam melakukan dekonstruksi kurikulum. Untuk merangsang prodi lain dalam percepatan penyusunan kurikulum, USU akan menstimulasi dengan mengadakan kompetisi kurikulum dan hibah untuk kelas kolaboratif. Dalam arahannya, WR I juga mengapresiasi respon cepat yang dilakukan oleh Prof Dwi dan tim UPP USU yang baru dilantik dalam memfasilitasi kegiatan-kegiatan menuju dekonstruksi kurikulum.

Untuk kegiatan ini, UPP USU menghadirkan Dr. Sri Peni Watuningsih dari Universitas Gajah Mada serta Tim Kurikulum dan Tim Sosialisasi MBKM Belmawa sebagai narasumber yang menyampaikan materi tentang pendekatan Outcome-Based Education (OBE) dalam penerapan MBKM. Beliau menjelaskan bahwa secara umum, OBE sebenarnya adalah penyelarasan antara hasil pembelajaran, proses pembelajaran dengan penilaian dan evaluasi. Dalam pembahasannya, beliau menggunakan istilah relaksasi kurikulum untuk menggambarkan bahwa kurikulum yang akan disusun haruslah fleksibel dan adaptif. Kurikulum yang fleksibel juga harus didukung dengan sistem yang kompatibel dengan program MBKM agar dapat memudahkan dan memfasilitasi semua pihak dalam mengimplementasikan program MBKM. Beliau juga berbagi pengalaman mengenai langkah-langkah yang telah dilakukan UGM dalam mengimplementasikan MBKM.

Kegiatan FGD Prodi IPA akan ditindaklanjuti oleh UPP USU yang akan melakukan pendampingan secara intensif kepada seluruh prodi di Universitas Sumatera Utara untuk memastikan setiap prodi menerapkan OBE dalam penyusunan kurikulum MBKM. Diharapkan seluruh prodi di USU dapat menyelesaikan kurikulum MBKM sehingga pada semester ganjil mendatang seluruh prodi dapat menjalankan kurikulum MBKM pada semester ganjil mendatang.
